Nilai valuasi startup kecerdasan buatan (AI) terkemuka asal China, DeepSeek, diperkirakan telah menembus angka 350,88 miliar yuan atau setara dengan Rp929 triliun. Lonjakan valuasi ini terungkap setelah sebuah konsorsium investasi menyuntikkan dana sebesar 2,9 miliar yuan untuk mengakuisisi kepemilikan saham tidak langsung di perusahaan tersebut.

Informasi strategis tersebut mengemuka melalui laporan resmi produsen koper asal China, Anhui Korrun, kepada otoritas bursa saham setempat. Dalam laporan itu disebutkan bahwa salah satu anak usaha mereka telah mengamankan sekitar 0,8265 persen saham tidak langsung di DeepSeek. Transaksi ini menjadi salah satu bukti publik perdana yang mengungkap valuasi riil dan peta investor eksternal startup yang berbasis di Hangzhou tersebut.

Sebagai perusahaan privat yang didirikan oleh Liang Wenfeng—yang juga memimpin perusahaan hedge fund High-Flyer—DeepSeek sebelumnya sangat tertutup mengenai rincian finansial mereka. Startup ini mencuri perhatian dunia setelah merilis model AI berbiaya rendah, V3 dan R1, yang terbukti mampu menantang dominasi teknologi AI buatan Amerika Serikat di tengah ketatnya sanksi pembatasan ekspor cip canggih dari Washington.

Selain Anhui Korrun, entitas lain seperti Jiuan Medical melalui anak usahanya di Hong Kong juga dilaporkan menginvestasikan dana sebesar 750 juta yuan. Langkah investasi strategis ini memberi mereka kepemilikan tidak langsung sekitar 0,21 persen di DeepSeek, memperkuat kalkulasi nilai pasar raksasa AI baru tersebut di pasar domestik.

Guna menopang kebutuhan biaya komputasi yang tinggi dan pengembangan talenta, DeepSeek dikabarkan tengah mempersiapkan putaran pendanaan baru dengan target penggalangan dana mencapai 50 miliar yuan. Tidak hanya itu, perusahaan ini juga sedang bersiap untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO) di papan teknologi STAR Market Shanghai pada tahun ini.