Aktivitas vulkanik Gunung Semeru yang terus menunjukkan peningkatan sejak 20 Juni 2026 membuat status gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tetap berada di Level III atau Siaga. Meskipun otoritas terkait telah mengeluarkan peringatan, aktivitas masyarakat, termasuk penambangan pasir di sekitar jalur aliran lahar, dilaporkan masih terus berlangsung.
Dosen Geografi Universitas Gadjah Mada, Indranova Suhendro, menekankan bahwa bahaya Gunung Semeru tidak terbatas pada lontaran material saat erupsi. Ancaman banjir lahar justru menjadi risiko paling signifikan karena akumulasi material vulkanik lepas berupa pasir, kerikil, hingga batu besar yang melimpah di lereng gunung, yang sewaktu-waktu dapat terbawa aliran air saat hujan turun di puncak.
"Lahar seringkali datang secara tiba-tiba tanpa adanya hujan di wilayah hilir. Jika puncak diguyur hujan deras, material vulkanik akan terdorong dan mengalir deras melalui sungai-sungai berhulu di Semeru, terutama di kawasan Besuksemut yang menjadi lintasan awan panas serta lahar," jelas Indranova.
Terkait keberadaan penambang pasir di zona berbahaya, Indranova mengakui adanya dilema antara kebutuhan ekonomi masyarakat dan aspek keselamatan jiwa. Meski secara sains aktivitas tersebut dilarang keras, ia menyarankan agar pemangku kebijakan lebih fokus pada penerapan standar keselamatan kerja yang ketat bagi para pekerja di lapangan.
Lebih lanjut, Indranova membedah karakteristik unik magma Semeru yang memiliki kadar kristal hingga 50 persen. Tingkat kekentalan ini membentuk kubah lava yang tidak stabil, sehingga rentan mengalami keruntuhan atau collapse. Runtuhan inilah yang kemudian memicu aliran piroklastik atau awan panas guguran, fenomena yang pernah mencapai jarak hingga 16 kilometer pada Desember 2021 lalu.
Selain aktivitas magma, curah hujan yang tinggi juga menjadi faktor pemicu utama longsoran kubah lava yang memicu awan panas. Mengingat karakter Gunung Semeru yang juga kerap mengalami erupsi bertipe Vulkanian secara intens, masyarakat diimbau untuk tidak abai terhadap instruksi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) demi meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa.