Situasi di sekitar Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, terpantau relatif tenang pada Minggu (12/7/2026) pagi. Berdasarkan pantauan visual dari pos pengamatan di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, hanya terlihat kepulan asap putih hingga kelabu dengan ketinggian berkisar antara 20 hingga 100 meter yang keluar dari kawah utama.
Walaupun tidak tercatat adanya letusan dalam periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, instrumen Badan Geologi tetap merekam dinamika aktivitas di dalam tubuh gunung. Tercatat terjadi enam kali gempa embusan, satu kali gempa low frequency, satu kali gempa hybrid, serta tremor menerus dengan amplitudo dominan dua milimeter yang mengindikasikan proses vulkanik masih aktif berlangsung.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, menegaskan bahwa ketenangan visual tidak dapat diartikan sebagai penghentian aktivitas vulkanik. Evaluasi status gunung dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan seluruh data kegempaan dan pengamatan visual yang dipantau selama 24 jam penuh.
Hingga saat ini, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tetap mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga. Masyarakat, nelayan, serta pelaku wisata diminta untuk tetap mematuhi rekomendasi zona larangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif demi menjamin keselamatan bersama.