Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Rabu (8/7/2026) pagi. Berdasarkan data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tercatat terjadi 14 kali gempa letusan dengan kolom abu vulkanik membubung hingga mencapai ketinggian sekitar 900 meter di atas puncak gunung.
Erupsi utama terpantau pada pukul 08.43 WIB. Rekaman seismograf menunjukkan amplitudo maksimum mencapai 22 milimeter dengan durasi letusan selama 126 detik. Meskipun kondisi cuaca di sekitar lokasi terpantau cerah hingga berawan, puncak gunung sempat tertutup kabut tipis sehingga visualisasi asap kawah menjadi terbatas.
Selain aktivitas letusan yang mendominasi, pemantauan instrumen juga mencatat adanya aktivitas seismik lain berupa tiga kali gempa guguran, empat kali gempa hembusan, serta satu kali gempa tektonik jauh. Dinamika ini menegaskan bahwa gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut masih berada dalam fase aktivitas yang memerlukan perhatian khusus.
Menyikapi kondisi tersebut, pihak berwenang menegaskan kembali zona larangan bagi masyarakat maupun wisatawan. Warga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari puncak Gunung Semeru guna menghindari risiko lontaran batu pijar. Selain itu, aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan dibatasi hingga jarak 13 kilometer dari pusat erupsi.
Masyarakat yang berdomisili di sekitar aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan ancaman lahar saat curah hujan tinggi. Pihak PVMBG mengimbau warga untuk terus memantau informasi resmi dan tidak terpancing oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.