Aktivitas vulkanik Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, dilaporkan mengalami peningkatan signifikan. Sepanjang periode pengamatan Minggu (5/7/2026), pos pemantau mencatat sebanyak 107 kali letusan yang disertai dengan dentuman serta lontaran material lava pijar.

Petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Ile Lewotolok, Stanislaus Ara Kian, menyebutkan bahwa letusan tersebut memicu kolom abu setinggi 200 hingga 400 meter. Selain kolom abu berwarna putih dan kelabu, erupsi ini juga diikuti oleh suara gemuruh dengan intensitas lemah hingga sedang. Material pijar terdeteksi meluncur hingga jarak 200 meter ke arah sektor tenggara kawah.

Data teknis menunjukkan erupsi memiliki amplitudo berkisar antara 11,1 hingga 40 milimeter dengan durasi letusan mencapai 275 detik. Selain aktivitas letusan, terekam pula 96 kali gempa embusan serta dua kali gempa tremor harmonik, yang menandakan dinamika pergerakan magma di bawah permukaan gunung dengan ketinggian 1.455 mdpl tersebut.

Saat ini, Gunung Ile Lewotolok masih berada pada status Level II atau Waspada. Pihak otoritas vulkanologi mengimbau warga serta wisatawan untuk tidak beraktivitas di dalam radius dua kilometer dari pusat kawah. Masyarakat diimbau tetap siaga terhadap potensi ancaman awan panas dan guguran lava, khususnya di sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut.

Sebagai informasi, gunung yang dikenal masyarakat setempat sebagai Ile Ape ini memiliki riwayat aktivitas vulkanik panjang yang tercatat sejak tahun 1660. Mengingat sejarah erupsinya yang sempat menyebabkan dampak kerusakan pada masa lalu, pemantauan ketat terus dilakukan guna memastikan keselamatan warga di sekitar lereng gunung.