Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus melakukan pengawasan ketat terhadap aktivitas muka air laut di kawasan Selat Sunda. Langkah mitigasi ini diambil menyusul serangkaian erupsi yang terjadi pada Gunung Anak Krakatau selama beberapa hari terakhir.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan anomali atau kenaikan signifikan pada permukaan air laut akibat aktivitas vulkanik tersebut. Hasil pemantauan dari peralatan sensor BMKG menunjukkan kondisi perairan di sekitar gunung api tersebut masih berada dalam status normal.
Lebih lanjut, pihak BMKG menjelaskan bahwa dampak erupsi Gunung Anak Krakatau sejauh ini cenderung bersifat lokal. Kekhawatiran utama saat ini difokuskan pada penyebaran abu vulkanik yang dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan jarak pandang serta mengganggu kualitas udara bagi jalur pelayaran dan penerbangan di sekitar wilayah terdampak.
Berdasarkan data terkini, embusan abu vulkanik tercatat dominan bergerak ke arah barat laut menuju Provinsi Lampung. Namun, karena kolom abu tidak mencapai ketinggian yang ekstrem, material vulkanik tersebut diperkirakan habis terbawa angin dan jatuh di atas permukaan laut sebelum menjangkau pemukiman penduduk.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat bahwa Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III (Siaga). Masyarakat maupun nelayan diimbau untuk mematuhi rekomendasi otoritas dengan tidak mendekati area puncak gunung dalam radius tiga kilometer guna menghindari risiko yang tidak diinginkan.