Indonesia dinilai memiliki pijakan yang sangat kokoh untuk melangkah lebih jauh dalam ekosistem kecerdasan buatan (AI). Chief Executive Officer (CEO) Magure Inc, Akhil Koka, mengungkapkan bahwa posisi Indonesia kini tengah bergeser dari sekadar pasar pengguna teknologi menjadi pengembang mandiri yang mampu membangun kedaulatan AI di dalam negeri.
Kesiapan tersebut ditopang oleh kemajuan infrastruktur komputasi, masifnya investasi pusat data, serta arah kebijakan regulasi yang semakin jelas. Akhil menekankan bahwa inisiatif seperti 'Sahabat AI'—ekosistem model bahasa besar berbasis open-source yang diprakarsai oleh Indosat Ooredoo Hutchison dan grup GoTo—menjadi bukti nyata kemampuan anak bangsa dalam memproduksi model teknologi sendiri.
Selain itu, kehadiran teknologi mutakhir seperti NVIDIA GB200 NVL72 yang diimplementasikan di fasilitas AI Factory Indonesia, semakin memperkuat fondasi komputasi nasional. Menurut Akhil, investasi dari pemain cloud hyperscale global di tanah air turut menjadi katalisator penting dalam mempercepat transformasi digital ini.
Meski optimistis, Akhil menyoroti adanya kesenjangan antara ambisi perusahaan dengan kesiapan tata kelola. Berdasarkan survei IBM, mayoritas pemimpin perusahaan memang percaya diri dalam mengadopsi AI, namun hanya 24% yang telah memiliki kerangka kerja tata kelola yang memadai. Ia mengingatkan bahwa penerapan AI di level korporasi memerlukan kontrol akses, observabilitas, dan keterlibatan manusia yang ketat guna memastikan etika serta efisiensi operasional.
Sebagai langkah strategis, ia menyarankan perusahaan untuk tidak terjebak pada proyek yang terlalu kompleks di awal. Sebaliknya, fokus pada proses bisnis yang memberikan dampak efisiensi nyata—seperti otomatisasi verifikasi dokumen di sektor perbankan—akan jauh lebih efektif dalam mendemonstrasikan nilai bisnis jangka panjang.