Pemerintah Indonesia tengah menjajaki kerja sama strategis dengan Damac Group, konglomerat properti dan infrastruktur teknologi asal Uni Emirat Arab (UEA). Perusahaan tersebut dikabarkan berminat untuk menanamkan modal besar guna membangun pusat data atau data center di Jakarta.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengungkapkan bahwa rencana investasi ini memiliki skala yang sangat masif. Damac diproyeksikan akan membangun pusat data dengan kapasitas mencapai 1,2 hingga 1,3 gigawatt. Angka tersebut melampaui total kapasitas nasional yang saat ini tercatat berada di kisaran 600 megawatt.
Berbeda dengan investasi pusat data pada umumnya yang kerap terpusat di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park, Batam, pihak Damac memilih Jakarta sebagai salah satu titik utama pengembangan infrastruktur mereka. Susi menegaskan bahwa pembahasan mengenai realisasi proyek ini sedang berlangsung intensif, termasuk koordinasi dengan Konsorsium Industri Pusat Data Indonesia (IDPro).
Mengingat besarnya skala kapasitas yang direncanakan, estimasi nilai investasi proyek ini dipastikan menembus angka miliaran dolar AS. Susi menekankan bahwa kebutuhan akan pusat data di Indonesia ke depannya sangat krusial, terutama untuk mendukung operasional kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan komputasi tinggi.
Meski potensi ekonominya sangat menjanjikan, pemerintah menyadari adanya tantangan besar dalam penyediaan infrastruktur penunjang, terutama pasokan listrik dan air. Pemerintah kini tengah menyelaraskan perencanaan investasi ini dengan ketersediaan utilitas nasional agar pembangunan pusat data berskala raksasa tersebut dapat berjalan optimal.