Tim riset Universitas Sahid (Usahid) bersama Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Sudin Parekraf) Jakarta Pusat berkolaborasi merumuskan konsep wisata gastronomi sejarah (heritage) yang berfokus pada nilai gizi dan keberlanjutan. Langkah konkret ini diwujudkan melalui Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) bertajuk "Model Pengembangan Pariwisata Gastronomi Heritage Regeneratif Berbasis Gizi" yang digelar di Kedai Tjikini, Jakarta Pusat.

Program sinergis ini digawangi oleh tim peneliti Usahid lintas disiplin ilmu, yang beranggotakan Khoirul Anwar, Ismayanti Istanto, dan Dewi Gita Kartika. Kolaborasi tersebut mempertemukan keahlian dari Program Studi S1 Pariwisata serta S1 Gizi guna menciptakan pendekatan pariwisata terintegrasi yang tidak hanya memanjakan lidah wisatawan, tetapi juga mendukung ketahanan pangan serta kesehatan masyarakat.

Forum diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari jajaran birokrasi pemerintah daerah, pelaku usaha kuliner tradisional, komunitas pencinta gastronomi, hingga pengelola destinasi wisata. Mereka berkumpul untuk memetakan potensi kuliner bersejarah di wilayah Jakarta Pusat sekaligus merancang strategi pelestarian warisan budaya kuliner lokal agar tetap relevan di era modern.

Perwakilan peneliti Usahid, Khoirul Anwar, menjelaskan bahwa tren wisata gastronomi masa kini telah bergeser. Tidak sekadar mencari kelezatan cita rasa, wisatawan kini kian peduli terhadap aspek budaya, nilai nutrisi hidangan, serta keberlanjutan ekosistem pangan. Menurutnya, kuliner warisan memiliki nilai histori tinggi yang berpotensi menjadi magnet wisata baru jika dikemas dengan standar gizi yang jelas.

Sebagai wujud nyata riset ini, tim peneliti tengah menyiapkan beberapa luaran strategis, di antaranya peta digital wisata gastronomi sejarah Jakarta Pusat, dokumentasi profil gizi menu-menu legendaris, serta pemetaan rantai pasok pangan lokal yang berkelanjutan. Data ini nantinya diharapkan menjadi acuan penting bagi pemerintah dalam menyusun regulasi pariwisata daerah.

Melalui kemitraan erat ini, Jakarta Pusat dibidik menjadi pionir destinasi wisata gastronomi berbasis kesehatan dan keberlanjutan. Langkah ini juga diyakini mampu mendongkrak daya saing pelaku UMKM kuliner setempat serta memperkuat posisi Universitas Sahid sebagai institusi pendidikan tinggi yang fokus pada pengembangan kewirausahaan dan kepariwisataan nasional.