Raksasa teknologi tanah air, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), kembali mencatatkan rapor hijau pada kuartal II tahun 2026. Emiten ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar, melanjutkan tren positif dari kuartal sebelumnya yang meraup laba Rp171 miliar. Pencapaian ini menegaskan kokohnya fundamental bisnis perusahaan di tengah dinamika pasar digital yang kompetitif.
Berbeda dari periode sebelumnya, motor utama pertumbuhan kali ini bergeser ke sektor layanan keuangan digital (fintech). Melalui layanan GoPay, divisi fintech GoTo untuk pertama kalinya mencatatkan tingkat keuntungan yang melampaui lini bisnis transportasi dan pengantaran (on-demand services). EBITDA grup yang disesuaikan juga melonjak hingga 137 persen secara tahunan, menembus angka Rp1 triliun untuk pertama kalinya.
Peningkatan performa fintech ini tercermin dari lonjakan EBITDA yang disesuaikan sebesar 447 persen menjadi Rp481 miliar. Pertumbuhan didorong oleh basis pengguna aktif bulanan (MTU) yang kini mencapai 28,8 juta pelanggan, menghasilkan total 2,4 miliar transaksi. Selain itu, bisnis pinjaman digital GoPay turut mencatat pertumbuhan portofolio sebesar 58 persen menjadi Rp11 triliun dengan manajemen risiko kredit yang tetap terjaga aman.
Sementara itu, lini bisnis on-demand seperti Gojek tetap menunjukkan kinerja stabil dengan mencatatkan pendapatan bersih Rp3,6 triliun dan EBITDA disesuaikan sebesar Rp464 miliar. Manajemen GoTo kini tengah mengantisipasi dampak dari implementasi regulasi baru Kementerian Perhubungan terkait batas komisi aplikasi sebesar 8 persen yang mulai berlaku per Juli 2026. Meskipun demikian, pihak manajemen optimistis target EBITDA grup setahun penuh di kisaran Rp3,2 hingga Rp3,4 triliun tetap dapat tercapai.
Selain performa operasional, basis pengguna tahunan (ATU) GoTo juga tumbuh 19 persen menyentuh angka 71 juta pengguna. Sebagai bagian dari langkah strategis memperkuat struktur modal, GoTo berencana melakukan aksi korporasi berupa pembatalan lebih dari 32 miliar saham treasuri atau setara dengan 2,7 persen dari total saham yang beredar, yang akan diajukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) mendatang.