Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia baru-baru ini mengeluarkan klarifikasi tegas terkait beredarnya informasi keliru yang menyebutkan bahwa Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi hebat di malam hari. Informasi tersebut sempat meresahkan masyarakat karena disertai narasi dramatis yang tidak memiliki dasar validitas data dari otoritas pemantau gunung api.
Berdasarkan hasil penelusuran fakta dan koordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dipastikan bahwa tidak ada aktivitas vulkanik ekstrem yang dilaporkan sebagaimana narasi yang tersebar di media sosial tersebut. Video atau foto yang sering disandingkan dengan klaim bohong itu diduga merupakan dokumentasi lama yang disebarkan kembali oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dengan keterangan waktu yang menyesatkan.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan senantiasa merujuk pada kanal informasi resmi sebelum menyebarluaskan kabar mengenai bencana alam. Mengandalkan data dari lembaga berwenang sangat krusial untuk menghindari kepanikan kolektif yang dipicu oleh informasi palsu (hoaks) yang sengaja dimanipulasi.
Hingga saat ini, pemantauan terhadap aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara intensif oleh instansi terkait. Masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya pada konten sensasional dan selalu memverifikasi setiap informasi melalui situs resmi pemerintah atau aplikasi resmi penyedia informasi kebencanaan.