Dua raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung Electronics Co. dan LG Energy Solution Ltd., kini menunjukkan arah bisnis yang saling bertolak belakang di tengah dinamika pasar global. Kesenjangan performa ini mencerminkan pergeseran permintaan industri yang sangat kontras antara sektor semikonduktor berbasis kecerdasan buatan (AI) dan kendaraan listrik (EV).

Samsung Electronics berhasil mencatatkan pencapaian luar biasa dengan lonjakan laba operasional hingga 19 kali lipat. Berdasarkan laporan awal, perusahaan membukukan laba operasional sebesar 89,4 triliun won atau setara dengan Rp1.043 triliun untuk periode kuartal kedua tahun ini. Capaian impresif ini melampaui estimasi para analis yang sebelumnya memproyeksikan angka 84,2 triliun won.

Kinerja fenomenal Samsung didorong oleh tingginya permintaan global terhadap chip memori berteknologi tinggi yang menjadi komponen vital bagi pusat data AI. Selain itu, pendapatan perusahaan dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 171 triliun won, sebuah angka yang bahkan melampaui total performa keuangan perusahaan sepanjang tahun 2025.

Di sisi lain, LG Energy Solution menghadapi tantangan yang cukup berat akibat penurunan permintaan kendaraan listrik di pasar internasional. Kondisi pasar yang sedang lesu ini memberikan tekanan pada unit bisnis baterai milik Grup LG tersebut, yang berbanding terbalik dengan momentum pertumbuhan yang dinikmati oleh Samsung.

Pihak Samsung sendiri dijadwalkan untuk merilis laporan keuangan secara komprehensif, termasuk rincian performa per divisi dan laba bersih, pada akhir bulan ini. Publik menantikan rincian tersebut untuk melihat sejauh mana ketahanan divisi lain di tengah dominasi sektor semikonduktor.