Kawasan Pesarean Gunung Kawi belakangan kembali menjadi sorotan tajam di berbagai platform media sosial. Isu mengenai praktik pesugihan yang disematkan pada situs ziarah ini mendadak riuh diperbincangkan, dipicu oleh konten-konten narasi mistis yang masif di ruang digital. Fenomena ini memicu gelombang rasa penasaran publik, sekaligus mengaburkan fakta sejarah di balik lokasi peristirahatan tokoh besar tersebut.

Secara historis, Gunung Kawi merupakan makam bagi Kiai Zakaria II (Eyang Jugo) dan Raden Mas Iman Soedjono (Eyang Sujo), ulama sekaligus pejuang pengikut Pangeran Diponegoro. Dahulu, tempat ini dikunjungi peziarah murni untuk memanjatkan doa dan menghormati leluhur. Namun, seiring berjalannya waktu, narasi kekayaan instan mulai melekat kuat, terutama dipicu oleh kesuksesan finansial para pengusaha yang pernah berziarah ke sana di masa lalu, yang kemudian disalahpahami sebagai buah dari ritual klenik.

Di tengah viralitas tersebut, muncul berbagai hoaks berupa selebaran digital yang menjanjikan paket "dana gaib" atau ritual pesugihan berujung miliaran rupiah. Pihak pengelola Pesarean Gunung Kawi secara tegas membantah keterlibatan dalam praktik tersebut. Daftar tarif yang sempat beredar di media sosial hanyalah biaya logistik resmi untuk keperluan selamatan, tumpeng, hingga pertunjukan wayang, yang disediakan sebagai transparansi agar peziarah tidak terjebak oleh calo.

Fenomena ini dapat dibedah melalui kacamata sosiologi sebagai bentuk hiperrealitas. Masyarakat modern yang terhimpit beban ekonomi cenderung menjadikan narasi pesugihan sebagai bentuk katarsis atau pelarian. Viralitas isu ini bukan semata-mata karena ketidaktahuan publik, melainkan bentuk respons satir atas realitas sosial-ekonomi yang dianggap semakin sulit. Di balik meme dan perbincangan konyol mengenai pesugihan, terselip keresahan masyarakat akan harapan hidup sejahtera yang kian sukar dicapai melalui jalur formal.