Dewan Sains dan Teknologi Nasional (NSTC) Taiwan secara resmi memperkenalkan inisiatif strategis bertajuk 'Visi Teknologi 2035'. Program ini dirancang untuk memposisikan sains dan teknologi sebagai pilar utama pembangunan nasional, dengan memanfaatkan ekosistem industri semikonduktor yang sudah matang sebagai fondasi riset teknologi masa depan.
Menteri NSTC, Wu Cheng-wen, menjelaskan bahwa peta jalan ini mencakup pengembangan di berbagai sektor kritis, mulai dari komputasi berkinerja tinggi, teknologi kuantum, hingga robotika dan fotonika silikon. Fokus utama dari visi ini adalah membangun kedaulatan kecerdasan buatan (AI) yang tangguh, guna memastikan bahwa inovasi yang dihasilkan dapat menjawab tantangan sosial sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat secara konkret.
Menanggapi tantangan global, Menteri Pendidikan Taiwan, Cheng Ying-yao, menekankan pentingnya strategi pembinaan talenta unggul. Kementerian Pendidikan berkomitmen untuk menarik dan mempertahankan bakat global melalui serangkaian kebijakan, seperti penambahan kuota beasiswa doktoral, inisiatif 'Universitas 30+', serta peningkatan kesejahteraan akademisi agar tetap kompetitif di kancah internasional.
Sinergi antara sektor pendidikan dan riset dipandang sebagai mesin utama penggerak industri di Taiwan. Cheng menegaskan bahwa inovasi ilmiah yang berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila fondasi pendidikan mampu mencetak sumber daya manusia yang berkualitas, yang nantinya akan mentransformasi hasil penelitian menjadi nilai tambah ekonomi.
Di sisi lain, Presiden Academia Sinica, Chen Chien-jen, turut menyambut baik kolaborasi lintas lembaga ini. Ia menyatakan bahwa reformasi kelembagaan dan peningkatan dukungan pendanaan menjadi prioritas agar lingkungan akademis di Taiwan lebih dinamis. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat penelitian dasar sehingga mampu memberikan kontribusi signifikan yang diakui dalam skala global.