Langkah strategis mewujudkan ketahanan energi nasional kini bertumpu pada transisi energi yang berkeadilan. Menanggapi tantangan tersebut, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Prof. Dr. Ir. Johni Jonatan Numberi, menegaskan bahwa pencapaian ini menuntut sinergi kuat antara regulasi yang tepat, kesiapan teknologi, serta kolaborasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan.
Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Johni dalam kuliah umum bertajuk "Transisi Energi Berkeadilan: Menjembatani Kebijakan, Teknologi, dan Keadilan Sosial" yang digelar di Gedung Multiguna Universitas Samudra (Unsam) pada Rabu (23/7). Acara ilmiah yang dihadiri civitas akademika ini dipandu langsung oleh Ketua Senat Unsam, Dr. Ir. Muhammad Amin.
Rektor Unsam, Prof. Dr. Ir. Hamdani, turut menggarisbawahi bahwa dinamika geopolitik global saat ini memberikan tekanan besar terhadap ketahanan energi dunia. Menyikapi situasi tersebut, langkah pemerintah mempercepat transisi menuju energi bersih dan rendah emisi dinilai sangat krusial. Namun, ia mengingatkan bahwa proses ini tidak dapat terjadi secara instan dan membutuhkan kesiapan teknologi serta sumber daya manusia yang kompeten.
Dalam pemaparannya, Prof. Johni menjelaskan bahwa Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional kini menjadi kompas utama dalam mereduksi emisi karbon. Kebijakan ini difokuskan pada pengembangan energi baru terbarukan (EBT) dan pemanfaatan gas sebagai jembatan transisi menuju target emisi nol bersih (Net Zero Emission) pada tahun 2060.
Lebih spesifik, perwakilan DEN tersebut menyoroti Provinsi Aceh yang menyimpan kekayaan EBT melimpah, mulai dari potensi tenaga surya, hidro, angin, hingga biomassa. Menurutnya, potensi besar ini dapat menjadi motor penggerak ketahanan energi daerah sekaligus menyokong target bauran energi nasional jika didukung investasi dan riset lintas sektor yang terarah.
Sebagai langkah konkret di lingkungan akademis, pihak DEN mendorong Unsam untuk mempelopori kemandirian energi kampus melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kehadiran instalasi ini diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai sumber daya mandiri kampus, melainkan juga menjadi laboratorium hidup guna meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam melahirkan inovasi energi masa depan.