Pemerintah Indonesia memanfaatkan momentum Forum Bisnis Indonesia–Rusia di pameran INNOPROM 2026, Ekaterinburg, untuk memperkuat diplomasi industri melalui sektor bioenergi. Fokus utama dalam pertemuan tersebut adalah mempromosikan inovasi kelapa sawit sebagai solusi transisi energi bersih yang berkelanjutan bagi kawasan Eurasia.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan bahwa Indonesia kini memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam pengembangan bioenergi. Menurutnya, hilirisasi industri kelapa sawit bukan hanya ditujukan untuk menggerakkan roda ekonomi domestik, tetapi juga menjadi instrumen strategis guna mencapai ketahanan energi global yang lebih ramah lingkungan.
Salah satu sorotan utama dalam forum yang dihadiri lebih dari 100 pemimpin industri tersebut adalah implementasi program mandatori biodiesel B50. Kebijakan yang mewajibkan campuran 50 persen bahan bakar nabati dari minyak sawit ini diproyeksikan dapat menekan ketergantungan negara terhadap bahan bakar fosil impor serta memangkas emisi karbon secara signifikan.
Direktur Jenderal KPAII Kementerian Perindustrian, Tri Supondy, menambahkan bahwa transformasi industri sawit Indonesia telah melampaui paradigma komoditas ekspor mentah. Saat ini, Indonesia fokus pada penguatan nilai tambah melalui riset, sertifikasi ISPO, dan peningkatan kapasitas SDM yang didukung penuh oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).
Selain mempromosikan teknologi biodiesel, pemerintah juga berupaya mengakselerasi perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU). Langkah ini diharapkan menjadi pintu gerbang bagi peningkatan investasi, transfer teknologi, dan perluasan akses pasar produk manufaktur Indonesia di pasar Rusia dan negara-negara di kawasan sekitarnya.