Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) menegaskan pentingnya perubahan paradigma dalam memandang sektor olahraga di Indonesia. Olahraga tidak boleh lagi diposisikan hanya sebagai beban anggaran atau cost center, melainkan harus dioptimalkan sebagai peluang pendapatan baru serta sarana memperkuat citra nasional atau national branding.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul arahan Presiden RI Prabowo Subianto terkait penguatan ekosistem olahraga nasional. Kemenpora saat ini gencar menyelaraskan visi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk mengubah cara pandang tersebut, sehingga olahraga dapat menjadi pilar ekonomi yang produktif.
Data dari Kemenpora menunjukkan bahwa tren sport tourism, khususnya ajang maraton, telah memberikan dampak ekonomi berganda bagi daerah. Dengan tercatatnya 104 perhelatan lari di seluruh Indonesia yang melibatkan jutaan partisipan, terjadi lonjakan okupansi hotel dan perputaran uang di sektor UMKM serta kuliner di kota-kota penyelenggara, seperti Bandung dan Mandalika.
Selain maraton, Kemenpora menyoroti besarnya potensi ekonomi dari liga olahraga profesional. Saat ini, nilai perputaran ekonomi dari liga sepak bola nasional telah mencapai Rp700 miliar, disusul liga bola basket di angka Rp60 miliar. Namun, Menpora menilai angka tersebut masih bisa ditingkatkan secara signifikan melalui pengembangan lebih banyak liga olahraga kompetitif.
Berkaca dari kesuksesan industri olahraga di Amerika Serikat, pemerintah berkomitmen untuk terus mendorong profesionalisme dan komersialisasi ekosistem olahraga domestik. Dengan mengedepankan manajemen yang lebih efisien dan modern, olahraga diharapkan menjadi mesin ekonomi baru yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional serta mencerminkan kemajuan negara di mata dunia.