Penyakit tidak menular, khususnya gangguan kardiovaskular, kini tidak lagi menjadi momok bagi kalangan lanjut usia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan fenomena yang disebut sebagai 'younger epidemic', di mana ruang tunggu dokter spesialis kini dipenuhi oleh pasien berusia produktif, yakni rentang 30 hingga 40 tahun.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Bayushi Eka Putra, menyoroti bahwa pembentukan plak pada pembuluh darah dapat terjadi sejak dini. Faktor pemicunya cukup kompleks, mulai dari gaya hidup sedenter, tingginya tingkat stres, pola makan yang tidak sehat, hingga faktor genetik dari riwayat kesehatan keluarga. Kondisi ini menuntut masyarakat untuk lebih proaktif dalam melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Di sisi lain, perkembangan teknologi medis yang pesat memang memberikan harapan besar bagi pasien dengan peluang kesembuhan yang mencapai lebih dari 95 persen. Namun, inovasi ini menuntut biaya operasional yang tidak sedikit. Penggunaan perangkat canggih seperti kabel sensor tekanan (FFR) atau probe IVUS/OCT dalam tindakan intervensi jantung menambah beban biaya medis secara signifikan.
Situasi ini diperparah oleh proyeksi inflasi medis di Indonesia yang mencapai 17,8 persen pada tahun 2026, angka tertinggi di Asia. Lonjakan biaya ini berbanding lurus dengan kenaikan nilai klaim asuransi kesehatan yang tercatat naik drastis, terutama pada kasus penyakit kritis seperti jantung, kanker, dan stroke.
Menghadapi realitas tersebut, pakar menyarankan pentingnya memiliki proteksi kesehatan berlapis sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Sinergi antara jaminan dasar dari BPJS Kesehatan dan perlindungan tambahan dari asuransi swasta dianggap sebagai langkah paling efektif untuk meminimalisir beban finansial saat risiko medis terjadi.
Pemerintah, melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terus memperkuat regulasi ekosistem asuransi guna memastikan keberlanjutan manfaat bagi masyarakat. Selain penguatan manajemen risiko, edukasi mengenai gaya hidup sehat tetap menjadi fondasi utama. Pasalnya, pencegahan melalui pola hidup berkualitas jauh lebih efisien dibandingkan menanggung biaya pengobatan yang semakin melambung.