Ikatan Sarjana Alumni Dayah Aceh (ISAD) memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah tegas Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh yang belum menerima cabang olahraga domino ke dalam program pembinaan prestasi. Keputusan ini dinilai sebagai wujud kehati-hatian pemerintah daerah dalam menyelaraskan kebijakan publik dengan kekhususan Aceh sebagai wilayah yang menerapkan syariat Islam.
Ketua Umum ISAD, Tgk Mustafa Husen Woyla, menyatakan bahwa kebijakan KONI Aceh tersebut membuktikan bahwa pembinaan olahraga di daerah ini tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi semata. Lebih dari itu, langkah strategis tersebut juga mempertimbangkan tatanan sosial, kearifan lokal, serta aspirasi para ulama yang menjadi pilar penting identitas masyarakat Aceh.
Mustafa menambahkan, keputusan KONI ini sejalan dengan kajian hukum yang pernah diselenggarakan oleh ISAD. Lembaga tersebut sebelumnya telah menggelar diskusi ilmiah yang melibatkan akademisi dan ulama untuk mengkaji status permainan domino secara komprehensif dari kacamata hukum Islam dan kemaslahatan sosial.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Jenderal DPP ISAD, Rifki Ismail, menegaskan bahwa penundaan ini bukan berarti menutup diri terhadap kemajuan dunia olahraga. Menurutnya, pencapaian prestasi dan penerapan nilai-nilai keagamaan harus berjalan beriringan tanpa saling meniadakan demi menjaga marwah daerah berjuluk Serambi Mekkah tersebut.
Rifki juga mengimbau masyarakat luas untuk menyikapi perbedaan pandangan ini secara bijak melalui ruang dialog ilmiah dan kajian akademik yang konstruktif. Ia berharap kebijakan KONI Aceh ini dihormati oleh semua pihak sebagai bagian dari ikhtiar bersama dalam melestarikan karakter daerah yang religius.