Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi melakukan langkah progresif jelang dimulainya proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Bantargebang. Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, memimpin langsung kunjungan kerja ke Huzhou, Cina, pada akhir Juni lalu untuk meninjau fasilitas pengolahan sampah mutakhir milik PT Wangneng Environment.

Delegasi yang terdiri dari jajaran eksekutif Pemkot Bekasi, anggota DPRD, serta perwakilan warga setempat ini melakukan observasi mendalam terkait operasional teknologi waste-to-energy. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, menyatakan bahwa lawatan tersebut bertujuan memberikan pemahaman komprehensif bagi seluruh pemangku kepentingan mengenai standar teknis dan pengelolaan dampak lingkungan dari fasilitas tersebut.

"Kami memastikan transparansi dalam setiap tahapan proyek ini. Melalui kunjungan langsung, masyarakat dan pihak terkait dapat melihat secara nyata bagaimana manfaat teknologi ini beroperasi dengan standar lingkungan yang ketat," ujar Kiswatiningsih. Pihaknya juga menegaskan bahwa seluruh pendanaan untuk kunjungan kerja ini ditanggung oleh badan usaha pelaksana proyek (BUPP), sehingga tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bekasi.

Lebih lanjut, Wali Kota Tri Adhianto mengungkapkan ambisinya untuk mentransformasi wajah Bantargebang dari sekadar tempat pembuangan sampah menjadi pusat ekonomi hijau. Selain PLTSa yang nantinya akan menghasilkan listrik, kawasan tersebut diproyeksikan menjadi sentra riset lingkungan serta industri pengolahan residu seperti fly ash dan bottom ash (FABA) menjadi material bernilai ekonomi.

Proyek strategis ini direncanakan memasuki tahap groundbreaking pada awal Juli 2026. Pemerintah daerah berharap, setelah beroperasi, Bantargebang dapat menjadi simbol baru keberhasilan pengelolaan sampah modern, inovasi energi terbarukan, serta motor penggerak pertumbuhan ekonomi hijau di Kota Bekasi.