Di balik dinginnya udara lereng Gunung Lawu, tepatnya di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, terdapat jejak sejarah yang masih terjaga dalam bentuk tanaman kopi. Ratusan petani setempat hingga kini masih membudidayakan bibit kopi yang diwariskan dari era kolonial Belanda, dengan usia pohon yang melampaui satu abad. Keaslian varietas yang terjaga tanpa persilangan ini menjadi daya tarik utama bagi para pecinta kopi tanah air.
Salah satu petani lokal, Santoso (57), mengungkapkan bahwa keunggulan kopi di wilayahnya terletak pada bentuk biji yang lebih mungil namun memiliki karakter rasa yang sangat pekat. Berkat teknik stek batang yang dilakukan secara turun-temurun dari pohon indukan berusia lebih dari 100 tahun di pekarangannya, ia kini berhasil mengelola hingga 3.000 pohon kopi di tiga lokasi berbeda. Produksi dari kebunnya mampu mencapai satu ton per musim panen.
Selain varietas Robusta yang populer, para petani juga membudidayakan kopi Excelsa, yang oleh warga setempat akrab disebut "Kopi Nangka" karena aroma uniknya yang menyerupai buah nangka. Meski varietas ini tergolong langka dengan populasi global hanya sekitar 2 persen, daya tariknya tetap kuat di kalangan pasar tertentu di Solo dan Karanganyar. Saat ini, harga jual di tingkat petani mencapai Rp100.000 untuk Robusta dan Rp110.000 untuk Excelsa per kilogram biji siap sangrai.
Dukungan pemerintah terhadap sektor ini pun kian masif. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Poncol, Sayogo Pamungkas, mencatat kini terdapat sekitar 720 petani yang tersebar di delapan desa dengan total lahan produktif mencapai 30 hektare. Pihaknya terus memfasilitasi kelompok tani dengan bantuan bibit, pupuk, serta pendampingan teknologi pengolahan hasil bekerja sama dengan institusi pendidikan tinggi guna memperluas jangkauan pasar hingga ke luar provinsi Jawa Timur.