Kawasan Pesarean Gunung Kawi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, baru-baru ini menjadi sorotan publik menyusul beredarnya daftar harga atau pricelist di area tersebut. Anggapan liar yang mengaitkan daftar biaya tersebut dengan tarif ritual pesugihan sempat berkembang luas di masyarakat.

Menanggapi isu tersebut, dosen Antropologi Universitas Brawijaya (UB), Padmo Adi, memberikan klarifikasi. Berdasarkan riset yang ia lakukan, daftar harga tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan praktik mistis tertentu. Nominal yang tertera merupakan biaya operasional untuk penyelenggaraan tradisi selamatan yang disediakan warga setempat guna memfasilitasi kebutuhan para peziarah.

"Itu bukan tarif pesugihan, melainkan biaya untuk keperluan selamatan seperti tumpengan atau pertunjukan wayang ruwatan. Warga sekitar berupaya membantu peziarah yang ingin memanjatkan doa syukur tanpa harus repot menyiapkan perlengkapan secara mandiri," ungkap Padmo.

Senada dengan pandangan akademisi tersebut, warga lokal yang tumbuh besar di sekitar kawasan Gunung Kawi, Recha, menyatakan bahwa daftar biaya tersebut telah lama menjadi bagian dari pelayanan wisata religi. Menurutnya, layanan tersebut mencakup kebutuhan syukuran yang bervariasi, mulai dari akikah hingga bentuk doa syukur lainnya kepada leluhur setempat.

Recha menambahkan bahwa aktivitas di kawasan tersebut telah menjadi motor penggerak ekonomi warga selama puluhan tahun. Keberagaman latar belakang peziarah yang datang ke Pesarean Gunung Kawi menegaskan posisi kawasan tersebut sebagai destinasi wisata religi yang terbuka bagi masyarakat dari berbagai kalangan dan kepercayaan.