Di tengah beredarnya informasi keliru di media sosial mengenai letusan dahsyat Gunung Anak Krakatau, pihak otoritas geologi menegaskan bahwa status gunung api tersebut saat ini berada pada Level III atau Siaga. Sebagai gunung api aktif yang lahir dari kaldera sisa letusan besar tahun 1883, Anak Krakatau terus menjadi fokus pemantauan intensif karena karakteristik geologisnya yang dinamis di Selat Sunda.
Sejarah mencatat, letusan induknya pada tahun 1883 menjadi salah satu bencana vulkanik paling mematikan di dunia. Belajar dari peristiwa tersebut, para ahli terus mewaspadai setiap pergerakan Anak Krakatau. Salah satu kejadian signifikan terjadi pada Desember 2018, di mana keruntuhan sebagian tubuh gunung memicu tsunami vulkanik yang berdampak fatal bagi wilayah pesisir di Banten dan Lampung Selatan.
Peningkatan status menjadi Siaga pada awal Juli 2026 didasarkan pada lonjakan aktivitas seismik, termasuk gempa vulkanik dangkal dan peningkatan emisi gas. Secara teknis, erupsi yang mungkin terjadi di masa depan dapat berupa tipe Strombolian hingga Vulcanian. Skenario risiko yang paling diwaspadai meliputi lontaran material pijar, hujan abu vulkanik yang dapat mengganggu mobilitas udara, serta potensi gangguan kesehatan pernapasan bagi masyarakat di sekitar wilayah terdampak.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada dengan hanya merujuk pada informasi resmi dari lembaga yang berwenang. Pemantauan berkelanjutan terus dilakukan untuk memitigasi potensi bahaya, mengingat sifat gunung yang terus tumbuh melalui fase erupsi berulang yang menuntut kesiapsiagaan tinggi dari pemerintah daerah dan warga pesisir.