Ratusan tokoh senior pendukung Megawati Soekarnoputri (Promeg) berkumpul kembali di Jalan Pandegiling, Surabaya, pada Jumat (24/7/2026) malam. Kehadiran sekitar 1.500 massa ini bertujuan untuk memperingati tiga dekade peristiwa kelam Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) yang terjadi pada 27 Juli 1996 silam.

Kawasan Pandegiling dipilih karena memiliki nilai historis yang mendalam bagi perjalanan partai. Rumah almarhum Ir. Sucipto, mantan Ketua DPD PDI Jawa Timur kubu Megawati, kala itu menjadi markas pertahanan dan pusat pergerakan para kader di Surabaya dalam melawan represi rezim Orde Baru.

Mantan Wali Kota Surabaya dua periode, Bambang DH, yang turut hadir, mengenang kembali masa-masa sulit perjuangan tersebut. Meski kini berusia 66 tahun dengan fisik yang tampak lebih kurus, suara orasinya tetap lantang saat menceritakan pengalamannya bersembunyi di kandang ayam untuk menghindari kejaran aparat keamanan pasca-pembubaran Kongres PDI faksi Soerjadi di Palu pada tahun 1998.

Senada dengan Bambang, salah satu saksi sejarah yang kala itu masih berusia belasan tahun, Nanang Sutrisno, menyatakan bahwa peringatan ini merupakan wujud tanggung jawab moral. Mantan anggota DPRD Kota Surabaya periode 1999-2004 ini menegaskan bahwa faktor usia tidak melunturkan panggilan perjuangan para kader senior, termasuk "Divisi Becak" yang kini rata-rata telah berusia di atas 70 tahun.

Acara refleksi sejarah ini juga dihadiri oleh anggota DPR RI Puti Guntur Soekarno, perwakilan Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), serta para akademisi. Selain diskusi bertajuk "Merawat Sejarah Mewariskan Perjuangan", peringatan ini dimeriahkan dengan pameran foto perjuangan karya Baktiono yang berlangsung dari tanggal 24 hingga 28 Juli 2026.