Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus berupaya memperkuat daya saing industri kecil dan menengah (IKM) jasa perbaikan telepon seluler melalui program sertifikasi kompetensi nasional. Langkah strategis ini diambil guna merespons tingginya ketergantungan masyarakat terhadap perangkat digital seiring dengan pesatnya penetrasi internet di Indonesia yang kini telah menjangkau lebih dari 229 juta pengguna.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) merupakan pilar utama dalam membangun struktur industri yang adaptif dan produktif. Menurutnya, pertumbuhan jumlah pengguna ponsel pintar secara langsung meningkatkan kebutuhan akan jasa perawatan dan perbaikan, yang menjadi peluang emas bagi para pelaku IKM lokal.
Sebagai langkah konkret, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) menggelar Pendampingan Teknis Sertifikasi IKM Servis HP di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sebanyak 12 teknisi lokal dibekali dengan pelatihan intensif yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), meliputi diagnosis kerusakan, penggantian komponen, hingga penerapan keselamatan kerja (K3).
Direktur Jenderal IKMA, Reni Yanita, menjelaskan bahwa pemilihan Brebes didasarkan pada potensi demografis wilayah tersebut yang memiliki populasi lebih dari dua juta jiwa. Besarnya jumlah penduduk ini menyimpan potensi pasar yang tinggi bagi penyedia jasa reparasi teknologi dan berpeluang besar membuka lapangan kerja baru di sektor informal.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut (LMEA), Budi Setiawan, menambahkan bahwa sertifikasi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) tidak sekadar menjadi bukti keahlian teknis. Sertifikat tersebut juga berfungsi membangun kepercayaan pelanggan serta memperluas pangsa pasar bagi usaha mandiri.
Selain dampak ekonomi, peningkatan kualitas layanan perbaikan ponsel juga berkontribusi positif terhadap kelestarian lingkungan dengan menekan volume limbah elektronik (e-waste). Kendati demikian, para teknisi lokal masih dihadapkan pada sejumlah tantangan, seperti cepatnya perkembangan teknologi gawai, sulitnya akses suku cadang orisinal di daerah, serta persaingan ketat dengan pusat servis resmi pabrikan.