Raksasa pembayaran digital PayPal Holdings Inc. kini berada di persimpangan jalan menyusul tawaran akuisisi senilai US$53 miliar (sekitar Rp837 triliun) dari Stripe dan firma investasi Advent International. Proposal pembelian ini memicu dilema besar bagi manajemen dan pemegang saham, yang harus memilih antara jalan keluar cepat lewat divestasi atau melanjutkan ambisi transformasi bisnis secara mandiri.

Konsorsium Stripe dan Advent dilaporkan menawarkan harga sekitar US$60 per lembar saham. Kabar rencana akuisisi ini langsung direspons positif oleh pasar modal, mendorong saham PayPal naik ke kisaran US$55 per lembar. Meski demikian, manajemen PayPal hingga saat ini belum memberikan tanggapan resmi maupun membuka ruang negosiasi formal dengan kedua pihak penawar.

Ketertarikan investor luar ini datang di saat PayPal tengah berjuang menghadapi tekanan kompetisi. Perusahaan dengan 439 juta akun aktif ini sempat kehilangan momentum pertumbuhan akibat penetrasi agresif dari Apple Pay dan Google Pay. Selain itu, sentimen negatif sektor teknologi terhadap ancaman disrupsi kecerdasan buatan (AI) juga sempat menekan valuasi saham PayPal ke titik terendah pada awal tahun ini.

Bagi investor ekuitas swasta (private equity), penurunan valuasi ini justru menjadi peluang emas untuk mengambil alih perusahaan dengan harga diskon. Strategi yang disiapkan adalah melakukan restrukturisasi secara tertutup bebas dari tekanan pasar saham publik, mengoptimalkan arus kas untuk investasi jangka panjang, sebelum akhirnya melepas kembali PayPal ke publik melalui penawaran umum perdana (IPO) baru.

Kendati penawaran US$60 per saham berada di atas rata-rata target analis yang sebesar US$48, angka tersebut dinilai masih di bawah potensi nilai intrinsik PayPal. Analis dari RBC menunjukkan bahwa jaringan distribusi PayPal yang menghubungkan ratusan juta konsumen dan pelaku usaha global merupakan aset unik yang sangat sulit ditiru kompetitor, sehingga tawaran saat ini dianggap belum mencerminkan nilai jangka panjang perusahaan.

Di bawah kepemimpinan CEO baru Enrique Lores yang menjabat sejak Maret lalu, PayPal terus mematangkan langkah pemulihan bisnisnya. Integrasi potensial antara platform pembayaran sosial milik PayPal, Venmo, dengan ekosistem Stripe diyakini dapat menciptakan nilai tambah yang sangat tinggi jika kesepakatan ini akhirnya terwujud.