Bursa saham Amerika Serikat, Wall Street, mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis (9/7). Aksi beli investor terhadap saham-saham sektor teknologi menjadi katalis utama yang membawa indeks S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones Industrial Average kompak berada di zona hijau, meskipun sentimen global tengah dibayangi ketegangan geopolitik menyusul serangan balasan Iran terhadap target militer AS di Kuwait, Qatar, dan Bahrain.
Indeks Nasdaq memimpin kenaikan dengan lonjakan 1,30 persen, disusul S&P 500 sebesar 0,81 persen dan Dow Jones sebesar 0,27 persen. Sektor teknologi informasi menjadi motor penggerak utama, didorong oleh antusiasme pasar terhadap potensi kecerdasan buatan (AI). Saham Micron Technology mencatatkan kinerja impresif dengan kenaikan 4,5 persen setelah mengumumkan komitmen investasi jumbo senilai USD 250 miliar untuk memenuhi permintaan chip masa depan.
Sentimen positif juga mengalir pada Meta Platforms menyusul rencana perusahaan memproduksi chip AI mandiri. Meski demikian, volatilitas masih membayangi pasar. Analis strategi investasi dari Baird, Ross Mayfield, menyebutkan bahwa reli yang didorong oleh optimisme AI masih sangat bergantung pada stabilitas harga minyak dan arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Di sisi makroekonomi, pasar tenaga kerja AS menunjukkan ketahanan dengan penurunan klaim tunjangan pengangguran. Namun, fokus investor kini beralih pada prospek suku bunga menyusul risalah rapat Federal Reserve yang mengindikasikan adanya perdebatan di antara para pejabat mengenai potensi kenaikan suku bunga. Berdasarkan data CME FedWatch, pasar memprediksi adanya peluang kenaikan sebesar 25 basis poin pada Desember mendatang.
Di sisi lain, tidak semua emiten mencatatkan hasil positif. Saham Costco Wholesale justru melemah 4,2 persen setelah laporan penjualan bulanan yang kurang memuaskan, sementara PepsiCo turun 3,3 persen meski laba kuartalannya melampaui ekspektasi. Secara keseluruhan, performa pasar tetap solid dengan rasio saham yang menguat melampaui saham yang melemah, meski volume perdagangan tercatat lebih tipis dibanding rata-rata 20 sesi sebelumnya.