Langkah strategis dalam memperkokoh tulang punggung konektivitas nasional resmi diambil oleh PT Indosat Tbk (IOH) melalui kemitraan dengan Arsari Group milik Aryo Djojohadikusumo. Kolaborasi ini melahirkan entitas baru bernama PT Infra Fiber Teknologi (IFT), yang diproyeksikan menjadi penyedia platform infrastruktur serat optik independen di Indonesia.
Kehadiran IFT bukan sekadar langkah konsolidasi aset, melainkan upaya untuk mengakomodasi lonjakan kebutuhan data berskala masif. Dengan memposisikan diri sebagai penyedia jaringan grosir (wholesale) yang netral, perusahaan ini siap mendukung implementasi ekosistem kecerdasan buatan (AI) yang membutuhkan stabilitas konektivitas tingkat tinggi baik di sektor korporasi maupun pemerintahan.
Sebagai modal awal operasional, IFT melakukan pengalihan aset serat optik milik Indosat dan anak usahanya, Lintasarta. Langkah ini memberikan kendali penuh atas jaringan kabel serat optik yang membentang lebih dari 86.000 kilometer, mencakup infrastruktur bawah laut, jaringan tulang punggung (backbone) darat, hingga akses langsung ke gedung dan perumahan.
Mengusung model bisnis akses terbuka, perusahaan ini menawarkan tiga pilar layanan utama yakni Submarine Fiber, Inland Terrestrial Fiber, dan Fiber Access (FTTX). Inisiatif ini diharapkan mampu mempercepat pemerataan akses digital ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk daerah-daerah yang saat ini masih minim jangkauan telekomunikasi.
Dalam menjalankan operasionalnya, manajemen IFT menetapkan empat pilar nilai utama yakni keandalan, skalabilitas, keamanan, dan kemitraan. Fokus jangka panjangnya adalah membangun ekosistem digital yang berkelanjutan bagi operator seluler, penyedia jasa internet, hingga pengelola pusat data untuk menciptakan iklim kompetisi yang lebih integratif dan efisien di masa depan.