Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan mulai menunjukkan tren penurunan pasca-letusan terakhir yang terjadi pada Sabtu, 11 Juli 2026. Kendati demikian, otoritas terkait masih mempertahankan status aktivitas gunung api aktif ini pada Level III (Siaga).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, mengungkapkan bahwa sejumlah parameter pemantauan mulai menunjukkan grafik penurunan. Ia berharap kondisi ini dapat terus membaik secara konsisten agar status kebencanaan Gunung Anak Krakatau bisa diturunkan menjadi Level II (Waspada).
Berdasarkan laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) untuk periode pengamatan Kamis (16/7/2026) pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, cuaca di sekitar kawasan gunung terpantau cerah dan berawan. Secara visual, asap kawah utama berwarna putih keabu-abuan dengan intensitas sedang hingga tebal teramati mengepul setinggi 20 hingga 50 meter dari atas puncak kawah.
Dari segi aktivitas seismik, pos pengamatan mencatat adanya dua kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo berkisar antara 17,4 hingga 18 mm dengan durasi berkisar 6-11 detik. Selain itu, terekam pula aktivitas gempa tremor menerus dengan amplitudo dominan berada di angka 5 mm.
Merujuk pada status Siaga yang masih berlaku, petugas mengimbau keras agar masyarakat setempat, wisatawan, nelayan, maupun pendaki tidak melakukan aktivitas apa pun dalam radius aman 3 kilometer dari kawah aktif untuk mengantisipasi potensi bahaya erupsi yang bisa terjadi sewaktu-waktu.