Ajang pameran industri internasional Innoprom 2026 yang berlangsung di Ekaterinburg, Rusia, pada awal Juli ini menjadi tonggak strategis bagi Indonesia dalam memperkuat diplomasi ekonomi. Bertindak sebagai official partner country, Indonesia secara resmi menggeser orientasi kemitraannya dengan kawasan Eurasia—dari yang sebelumnya hanya berfokus pada perdagangan komoditas, kini bertransformasi menuju kolaborasi industri yang komprehensif, mencakup investasi, hilirisasi, hingga alih teknologi.

Dalam forum tersebut, Kementerian Perindustrian memperkenalkan Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN) sebagai kompas kebijakan jangka panjang. Fokus utamanya adalah memperkuat manufaktur berbasis nilai tambah, mempercepat adopsi teknologi melalui peta jalan Making Indonesia 4.0, serta membangun ekosistem industri hijau yang kompetitif. Pemerintah menegaskan posisi Indonesia bukan lagi sekadar pasar bagi 280 juta penduduk, melainkan basis produksi regional yang terintegrasi dengan pasar ASEAN.

Hasil nyata dari diplomasi ini terlihat dengan lahirnya 13 nota kesepahaman (MoU) yang menjangkau sektor otomotif, metalurgi, industri kimia, hingga pengembangan kawasan industri. Tidak hanya berhenti pada level pemerintah, kolaborasi ini turut melibatkan asosiasi industri serta pengelola kawasan industri nasional, seperti Kawasan Industri Terpadu Batang dan Kendal Industrial Park, untuk memikat calon investor dengan penawaran fasilitas yang lebih matang dan terintegrasi.

Langkah strategis ini juga menyasar negara-negara di Asia Tengah, dengan Kazakhstan dan Armenia yang diproyeksikan sebagai pintu masuk utama ke pasar Eurasian Economic Union (EAEU). Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa antusiasme tinggi dari pelaku industri Eurasia menunjukkan kepercayaan terhadap daya saing sektor manufaktur Indonesia. Kini, fokus pemerintah beralih pada fase eksekusi guna memastikan seluruh komitmen investasi tersebut segera terwujud menjadi pabrik, lapangan kerja, dan transfer teknologi yang nyata.