Kawasan wisata religi Gunung Kawi mendadak menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah kembali dikaitkan dengan rumor mistis pesugihan. Fenomena viral ini memicu tanggapan serius dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat hingga pengelola destinasi wisata tersebut, guna meluruskan persepsi publik yang telanjur keliru.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, memberikan pandangannya bahwa Gunung Kawi merupakan representasi dari kekayaan tradisi serta kebudayaan Nusantara yang telah mengakar kuat di masyarakat. Ia menilai lumrah adanya perbedaan cara pandang masyarakat dalam memaknai situs-situs bersejarah maupun spiritual.

Menurut Fadli, eksistensi kawasan religi seperti Gunung Kawi patut dihormati sebagai realitas sosial. Hal ini dengan catatan aktivitas yang berlangsung di sana memberikan dampak ekonomi positif bagi warga sekitar, menjaga kelestarian lingkungan, serta tidak merusak fasilitas umum yang ada.

Sementara itu, pihak pengelola wisata religi Gunung Kawi melalui pernyataan resminya di media sosial membantah keras tudingan miring tersebut. Mereka menegaskan bahwa destinasi bersejarah ini sejatinya adalah tempat ziarah, beribadah, dan wadah toleransi antarumat beragama, bukan lokasi ritual mencari kekayaan secara instan.

Pengelola menyayangkan maraknya konten digital demi mengejar popularitas yang telah menggeser citra positif Gunung Kawi. Narasi mistis dinilai lebih cepat menyebar dibanding kisah toleransi, sejarah peradaban, serta penghormatan leluhur yang menjadi fondasi utama tempat ziarah legendaris ini.

Melalui klarifikasi ini, masyarakat diharapkan dapat memandang Gunung Kawi secara utuh sebagai warisan budaya nasional yang bernilai sejarah tinggi, sekaligus penggerak roda perekonomian lokal melalui sektor pariwisata yang sehat.