Para pemimpin bisnis, penasihat hukum, serta pakar audit dari berbagai negara di kawasan Asia-Pasifik menggelar pertemuan strategis bertajuk Asia Pacific Practice & Business Leadership Retreat. Acara yang dihelat di Merusaka Hotel, Bali, pada 6–7 Juli 2026 ini menjadi wadah diskusi krusial terkait tantangan dunia usaha di tengah dinamika geopolitik global dan disrupsi teknologi.
Delegasi yang hadir mencakup perwakilan dari berbagai negara, mulai dari China, Singapura, hingga Belanda dan Belgia. Dalam forum ini, para eksekutif mendalami dampak ketegangan global, termasuk konflik Amerika Serikat-Iran, terhadap stabilitas ekonomi dan kebijakan pemerintah di masing-masing wilayah operasional mereka.
Asia Pacific Regional Director di TGS, Mikail Jaman, mengungkapkan bahwa pertemuan ini dirancang untuk memberikan ruang refleksi bagi para pemimpin perusahaan. Melalui diskusi antarsejawat, para praktisi bisnis saling berbagi wawasan mengenai langkah adaptasi industri dan respons kebijakan yang diperlukan dalam menghadapi tekanan ekonomi global.
Selain isu geopolitik, adopsi kecerdasan buatan (AI) menjadi topik hangat dalam diskusi tersebut. Jaman menekankan bahwa perusahaan yang abai terhadap integrasi AI berisiko kehilangan daya saing. Meskipun AI menjanjikan efisiensi operasional yang signifikan, ia meyakini teknologi ini tidak akan menggantikan esensi hubungan antarmanusia dalam pengambilan keputusan strategis dan negosiasi bisnis.
Harapannya, melalui pendampingan mentor profesional selama dua hari, para pemimpin bisnis dapat mempertajam intuisi dan mempercepat pengambilan keputusan. Upaya kolektif ini diharapkan mampu membekali perusahaan dalam menavigasi masa depan dunia usaha yang semakin kompleks dan cepat berubah.