Di tengah fluktuasi pasar keuangan global dan domestik yang sulit diprediksi, sektor manajemen kekayaan (wealth management) perbankan di Indonesia terbukti tetap kokoh. Sejumlah bank papan atas berhasil mencatatkan pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) serta kontribusi pendapatan yang signifikan, didorong oleh kelincahan dalam merespons pergeseran tren investasi nasabah.
PT Bank DBS Indonesia, misalnya, membukukan kenaikan AUM pada segmen nasabah prioritas (private client) sebesar 13 persen secara tahunan (yoy) per Juni 2026. Pertumbuhan ini diikuti oleh peningkatan rata-rata AUM per nasabah sebesar 15 persen yoy. Kinerja positif tersebut turut mendongkrak total pendapatan bisnis wealth management DBS sebesar 34 persen yoy, yang ditopang oleh lonjakan pendapatan komisi investasi hingga 65 persen yoy serta laba bersih yang tumbuh 24 persen yoy.
Consumer Banking Director Bank DBS Indonesia, Melfrida Gultom, mengungkapkan bahwa kunci dari keberhasilan ini terletak pada strategi komunikasi yang proaktif melalui relationship manager (RM). Meskipun proyeksi penurunan suku bunga acuan tidak sesuai ekspektasi awal, DBS berfokus membekali nasabah dengan analisis pasar terkini agar mereka dapat dengan cepat menyesuaikan portofolio investasinya.
Melfrida menambahkan, preferensi nasabah saat ini sangat dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil (yield). Produk reksadana saham luar negeri (offshore) berbasis syariah dengan paparan pada sektor teknologi dan infrastruktur di kawasan Asia dan Amerika Serikat menjadi salah satu yang paling diminati. Selain itu, produk terstruktur (structured product) berorientasi derivatif juga mencatatkan minat tinggi di tengah volatilitas pasar yang dinamis.
Tren serupa juga dirasakan oleh PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Kontribusi bisnis wealth management menyumbang 35 persen terhadap total pendapatan segmen premier banking sepanjang semester pertama tahun ini. Sementara itu, total dana kelolaan pada segmen affluent sukses terkerek hingga 16 persen sejak tahun 2024.
Community Financial Service Maybank Indonesia, Bianto Surodjo, menjelaskan bahwa nasabah kelas atas kini cenderung menaruh minat pada instrumen investasi berbasis obligasi pemerintah demi memanfaatkan momentum kenaikan suku bunga. Selain obligasi, instrumen alternatif seperti emas serta reksadana ekuitas syariah global bertema teknologi juga menjadi pilihan favorit nasabah dalam menjaga nilai aset mereka.