Pernyataan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang kerap melabeli dirinya sebagai "orang kampung" bukan sekadar ungkapan spontanitas belaka. Secara historis dan sosiologis, narasi ini merupakan konstruksi politik yang cermat untuk membentuk persepsi publik mengenai sosok pemimpin yang sederhana, jujur, dan memiliki akar kedekatan dengan rakyat kecil.
Dalam literatur ilmu politik, langkah ini dikenal sebagai self-framing, yakni upaya aktor politik untuk membingkai identitas diri guna memengaruhi opini massa. Praktik serupa sejatinya memiliki jejak panjang dalam sejarah Indonesia, mulai dari retorika Soekarno sebagai "penyambung lidah rakyat" hingga pencitraan Soeharto sebagai "bapak pembangunan". Narasi tersebut digunakan sebagai alat legitimasi untuk mengukuhkan posisi pemimpin di tengah masyarakat.
Dilihat dari kacamata budaya Jawa, konsep ini bersinggungan dengan nilai andhap asor atau sikap rendah hati. Meski memiliki nilai estetika dan kultural yang kuat, narasi ini bersifat ambivalen. Simbol tersebut dapat memperkuat ikatan emosional dengan konstituen, namun sekaligus berisiko menjadi sekadar retorika kosong apabila tidak dibarengi dengan kebijakan publik yang nyata dan konsisten.
Oleh karena itu, masyarakat selaku pemegang mandat demokrasi dituntut untuk bersikap kritis terhadap narasi yang dibangun para elit. Keabsahan dari sebuah identitas politik tidak boleh hanya diukur melalui narasi yang memikat, melainkan melalui sejauh mana integritas, transparansi, dan kebijakan pemimpin tersebut benar-benar berpihak pada kepentingan publik di tengah kompleksitas tata kelola negara modern.