Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Kamis (4/6/2026). Sepanjang periode pukul 00.34 hingga 08.00 WIB, gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami erupsi sebanyak tujuh kali dengan ketinggian kolom abu yang bervariasi antara 400 hingga 700 meter di atas puncak.
Berdasarkan laporan resmi petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, letusan ketujuh yang terjadi pada pukul 07.47 WIB menghasilkan kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal yang mengarah ke barat daya. Aktivitas ini terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 21 mm dan durasi selama 124 detik.
Selain aktivitas erupsi, instrumen pemantauan juga mencatat adanya rentetan gempa letusan sebanyak 16 kali, tiga kali gempa embusan, serta satu kali gempa tektonik jauh dalam kurun waktu enam jam pengamatan. Data seismik ini menunjukkan bahwa kondisi internal kawah masih sangat dinamis dan memerlukan kewaspadaan tinggi dari pihak terkait maupun warga setempat.
Hingga saat ini, Gunung Semeru masih ditetapkan pada Status Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menegaskan larangan ketat bagi warga untuk beraktivitas dalam radius lima kilometer dari kawah utama. Selain itu, masyarakat diminta menjauhi sektor tenggara di sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari pusat erupsi guna mengantisipasi ancaman awan panas guguran serta aliran lahar.
Warga yang tinggal di sekitar lembah sungai yang berhulu di Gunung Semeru, seperti Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, diimbau untuk tetap siaga. Potensi bahaya lontaran batu pijar serta luncuran material vulkanik menjadi risiko utama yang harus diwaspadai oleh masyarakat yang berada di jalur aliran sungai tersebut.