Sulawesi Selatan telah lama menancapkan taringnya sebagai lumbung kopi berkualitas dunia. Namun, di balik kejayaan nama besar kopi Toraja, tersimpan tantangan struktural yang mendesak: ketergantungan pada penjualan biji kopi mentah atau green beans. Kondisi ini menempatkan pelaku usaha lokal dalam jebakan komoditas (commodity trap), di mana margin keuntungan terbesar justru dinikmati oleh pihak luar daerah.
Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, forum 'Bincang Ekonomi Daerah' yang diinisiasi oleh Universitas Hasanuddin bersama sejumlah pihak, menggelar diskusi mendalam di Makassar, Jumat (3/7/2026). Forum ini mempertemukan pemerintah, akademisi, dan praktisi bisnis untuk merumuskan strategi pengembangan ekosistem kopi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Plt. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Selatan, Yunita Ghalib, menekankan bahwa paradigma perdagangan kopi harus segera bergeser. Fokus utama kini diarahkan pada hilirisasi, di mana UMKM didorong untuk menciptakan produk turunan bernilai ekonomi tinggi, mulai dari roasted beans, kopi siap minum, hingga diversifikasi produk kreatif lainnya seperti produk kecantikan dan cendera mata.
Senada dengan hal tersebut, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Prof. Mursalim Nohong, menyoroti urgensi pembangunan ekosistem bisnis yang terintegrasi. Menurutnya, penguatan dari sisi petani hingga pengembangan wisata kopi (coffee tourism) merupakan kunci untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi baru yang mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal.
Selain inovasi produk, tantangan penjenamaan (branding) daerah juga menjadi perhatian serius. Disperindag Sulsel berkomitmen mendorong penguatan identitas masing-masing daerah penghasil kopi, seperti Enrekang, Sinjai, dan Gowa, agar tidak terus terbayangi oleh nama besar Toraja. Dengan memperkuat branding berbasis asal (origin-based branding), setiap daerah memiliki kesempatan untuk menonjolkan karakter rasa unik produknya di pasar global.
Sebagai langkah konkret, pemerintah daerah kini telah menyediakan berbagai fasilitas pendukung, termasuk pendampingan sertifikasi halal, pengurusan NIB, hingga bantuan desain kemasan. Sinergi lintas sektor ini diharapkan menjadi katalisator bagi UMKM kopi Sulawesi Selatan untuk tidak hanya unggul dalam produksi, tetapi juga berjaya dalam nilai tambah dan daya saing internasional.